Thursday, 23 June 2016

Ramadan in the UK

Alhamdulillah kita sudah memasuki hari ke 19 di bulan Ramadan tahun ini..
and this is my (first time) Ramadan stories in the UK :)


Well, we are now in the very special month of the year (for Muslim), the so-called Ramadan month, the ninth month on the Hijriah Calendar. Why is Ramadan so special among Muslims? Yes, because we do fasting for 30 days! We cannot eat or drink or get angry and so on and so forth.

Ini pertama kalinya saya menjalani puasa jauh dari rumah, I mean literally jauh, beda negara, beda waktu, beda tradisi, dlllll. Walaupun tiap tahun juga pasti jarang bisa ngerasain puasa di rumah, tapi at least tahun-tahun kemarin masih bisa puasa di Indonesia. Jadi kali ini bener-bener momen yang luar biasa bagi saya karena bisa ngerasain puasa di negara yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam.

Apa bedanya puasa di Indonesia dan di Inggris?
Jelas beda, jika di Indonesia bulan puasa merupakan bulan yang sakral, dimana rumah makan atau restoran terkadang dihimbau untuk tidak dibuka selama masa puasa dan jikalau ada warung yang masih buka pun (saya tidak akan membahas warung yang digrebek satpol PP itu, kok) harus menutup tirai demi menghormati umat Muslim yang sedang berpuasa.
Disini, di negara Nenek Elizabeth, tidak ada larangan atau sekedar himbauan bagi tempat makan untuk menghormati orang yang sedang berpuasa, karena kita minoritas. Jadi ketika kita keluar rumah, di pusat perbelanjaan, dengan mudah kita akan menemui orang makan, ngopi, ngeteh, ngerokok, dll.
Selain lingkungan yang berbeda, waktu kita menahan haus dan lapar dan nafsu itu juga lebih lama, tahun ini kita harus berpuasa selama kira-kira 19 jam, berbeda dengan Indonesia yang hanya 14 jam, karena kita sedang berada di musim panas yang memang waktu siang (sangat) lebih lama dibandingkan waktu malam. Bahkan ketika saya amati, ketika kira-kira pukul 1 pagi, langit disini belum benar-benar gelap, dan memang tidak akan terlalu gelap sampai nanti pukul 2.40 kita sudah harus memulai puasa.
Perbedaan yang kental juga adalah di Inggris tidak ada yang namanya pasar kaget disaat menjelang buka puasa, dimana kita bisa berjumpa dengan kolak, bercanda dengan bapak gorengan, bertatap dengan dawet, Ya Allaaaah... Cuma di Indonesia deh yang pada saat buka puasa itu berasa makanan gak ada habisnya. Kelebihan puasa disini sih kita jadi bisa mengasah skill memasak kita yang ala kadarnya, dengan tujuan agar bisa bertahan dari 19-jam-puasa-itu.


Wah, puasa 19 jam itu gimana rasanya?
Nah, pertanyaan ini juga sempat terlintas di pikiran saya sebelum bulan Ramadan datang. "Kira-kira kuat gak, Dek?", tanya Mama yang khawatir gitu takut anaknya kurus. Orang tua dan saudara bahkan teman sudah mewanti-wanti, kalau seumpama saya gak bisa puasa full, buka aja, namanya juga belum terbiasa, kata mereka. Tapi ternyata gak seberat yang kita semua bayangkan, puasa 19 jam itu masih bisa dilakukan, ya walaupun terkadang setelah ashar (sekitar pukul 6 sore) udah mulai lemes dan akhirnya memilih untuk tidur aja daripada buang tenaga.
Tapi intinya 19 jam itu masih oke, masih bisa dilakukan, masih manusiawi.


Gimana perasaannya puasa di lingkungan yang mayoritas orangnya gak puasa?
Beberapa teman (wanita) ada yang cerita di social media (sebut saja Mbak Sez** dan Fildz**), mereka merasa nggak enak hati ketika mereka yang berhijab sedang on period dan nggak puasa, tapi laper, dan mau makan jadi sungkan karena orang-orang di sekitar mereka tau bahwa di bulan Ramadan orang Islam menjalankan ibadah puasa. Ada juga yang teman sekantornya (sebut saja Mbak Sab**) bolak balik minta maaf karena dia tidak sengaja makan/minum di dekat Mbak Sab** dan dia merasa tidak menghargai orang lain yang sedang puasa. Berarti sebenarnya ada juga orang bule (atau non muslim) yang care dengan kaum muslim yang sedang menjalankan puasa. Jadi, puasa di negeri orang nggak seserem itu, kok.


Puasa di luar negeri ada susahnya nggak?
Kalau ditanya susah, relatif. Yang bikin sedih itu ketika harus buka puasa dan sahur sendirian. Kenapa buka puasa sendirian? Karena buka puasa itu jam 10 malam dan kalau memilih berbuka di luar itu sudah gak ada bus yang ke arah rumah, jadi semua itu bikin mager buka puasa di luar. Tapi asik juga sih ketika buka puasa bareng-bareng sama temen-temen yang senasib, masak rame-rame, buka puasa bareng-bareng.
Sedikit curhat, kemarin pas hari pertama puasa itu rasanya sediiiihhhh, sesedih itu, merasa kehilangan sesuatu, kehilangan momen, issh lebay, tapi emang bener sih :( Sampai pada akhirnya memutuskan untuk nginep di rumah temen biar ada yang nemenin buka puasa + sahur.


Ada pengalaman seru nggak selama puasa di UK?
Definetly, I have tons of great experiences during this Ramadan. Pertama, ketika memutuskan nginep di rumah temen biar ada temen buka puasa + sahur, yang ada malah telat bangun sahur, karena kekenyangan terus keasikan ngobrol terus ketiduran, dan berujung makan 1 pisang dan kurma aja.
Kedua, di tanggal 18 Juni 2016, saya nonton konser Coldplay di London. Mulai ngantri di gate pukul 3 sore, sampai gate dibuka pukul 5.15 dilanjut dengerin band pembuka yang saya gak ngerti itu siapa, selama 2 jam lebih dan pada akhirnya Aa Chris Martin baru muncul pukul 8.30 malam. Kalau dihitung sih sekitar 7.5 jam saya berdiri. Ketika orang disekitar saya minum bir, saya cuma bisa ngeliatin jam tangan, dan berharap waktu buka puasa cepetan dateng (ampun Ya Allah). Lalu sampai akhirnya waktu buka puasa tiba, dan saya cuma bisa makan kurma dan minum air mineral. But that was my UNFORGETTABLE MOMENT, ever. Ketiga, keesokan harinya di London, saya pergi ke British Museum tempat muminya Cleopatra disemayamkan. Lalu saya disapa oleh salah satu petugas security, beliau mengucap Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh kepada saya, kemudian berkata "happy fasting!". Subhanallah, baru disitu saya merasakan arti Ramadan di tanah para bule dan merasa kalau umat Islam saling support satu sama lain. Terakhir, ketika di bus station di London, saya menuju ke bus dan salah satu petugas bus memeriksa tiket saya sambil mengucap Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Karena saya sudah sangat capek, saya jawab dengan lirih. Lalu beliau melihati saya dan menegur "Be proud...", dan Beliau mengucap salam lagi dan saya jawab dengan lantang, eh si Bapak malah keheranan wkwkwk akhirnya saya menuju ke bus dan seketika langsung tidur.


Sekian, dan terima kasih....

No comments:

Post a Comment